Simplex Sportfietsen

Sportfietsen berasal dari bahasa Belanda, ‘sport’ dan ‘fietsen’. Kata sport berarti olah raga dan fietsen atau fiets artinya sepeda. Istilah ini dipakai sebagai penyebutan untuk model sepeda tertentu menurut mereka. Sepeda Sportfietsen berbeda dengan ‘sepeda kebo’ (Toerfietsen) yang dikenal secara umum dan banyak dibahas dalam situs ini. Oleh Belanda sepeda Toerfietsen ini disebut sebagai sepeda opa atau juga sepeda pria (heerenfiets), sepeda oma atau sepeda dames (damesfiets). Intinya sepeda Toerfietsen adalah merujuk pada sepedanya orang tua. Oleh karena itu dengan alasan menciptakan bentuk sepeda yang modern dan mengikuti perkembangan trend maka diciptakanlah bentuk-bentuk baru yang bebas dari konotasi sepeda orang tua dan ketinggalan jaman (alasan produk, konsumen dan marketing). Sportfietsen mula-mula diciptakan Inggris sekitar tahun 1950. Perbedaan yang paling mendasar antara Sportfietsen dan Toerfietsen menurut konsep awalnya adalah pada besar roda. Toerfietsen menggunakan ban ukuran 28 inch sedangkan sportfietsen menggunakan 26 inch. Pada perkembangan berikutnya, sportfietsen juga mengalami perombakan dramatis pada bentuk frame dengan ukuran leher frame depan biasanya nggak terlalu tinggi (15-20cm), jarak antara sadel dengan setang yang cukup lebar sehingga pengemudi agak membungkuk (berbeda dengan jenis Toerfietsen yang jaraknya cukup pendek sehingga badan pengemudi cenderung tegak). Spakboard yang mengecil, cat yang colorfull (hijau, merah, biru, coklat muda, metalik, dan lain-lain. Sepeda sport cenderung dekoratif dengan berbagai ornamen pada bentuk sock/keni, transfer merek yang ‘meriah’ dan pemakaian nama-nama dagang yang menghebohkan, seperti Simplex Cote D’Azur, Simplex Victory, Batavus Flying Dutcman Arrows, Fongers Grand Sport, dll. Sepeda ini juga mengusung asesories yang meriah seperti penggunaan beraneka lampu, spotlight, reflector, bel berketrikan merek sepedanya, dan lain-lain.  Sportfietsen ternyata diterima oleh pasar dengan antusias karena sifatnya yang mudah dikendarai oleh siapapun (tua-muda,pria-wanita). Dalam dunia desain, ini disebut kecenderungan POP CULTURE. Suatu gejala di masyarakat yang menggemari sesuatu yang muncul dan diterima khalayak ramai. Pop Culture sebagai sebuah ekspresi yang sifatnya sementara dan gampang berubah.

Salah satu ciri yang mencolok pada perkembangan sepeda sport ini adalah tampilan yang ‘penuh hiasan’, berwarna lebih menarik dari sekedar hitam atau hijau botol ciri umumnya sepeda toerfietsen. Sportfietsen juga menampilkan aneka ragam asesories atau hiasan sebagai pemanisnya. Agaknya kecenderungan ini kemudian diadopsi oleh penggemar sepeda kuno di Eropa dan Indonesia pada sepeda koleksinya yang bukan kategori Sportfietsen. Sehingga sekarang banyak ontelers yang mendandani sepeda kuno non sportfietsen koleksinya menggunakan berbagai asesories yang ramai dan menghebohkan selayaknya sportfietsen. Pada perkembangan berikutnya produsen sepeda tidak lagi memperhatikan pakem awal kriteria sportfietsen dengan toerfietsen, sehingga muncul sepeda toerfietsen yang beraneka warna dan penuh hiasan. Bermunculan pula sepeda sportfietsen yang menggunakan ukuran ban 28 dan berukuran tinggi. Di Indonesia orang biasa menyebut sportfietsen yang menggunakan ban 26 sebagai ‘jengki’ sedangkan yang ukuran ban 28 ada yang menyebut sebagai ‘sepeda kebo’ ada pula yang ‘sepeda pelayaran’ karena didatangkan orang melalui kapal dari Singapura. Serba-serbi model sepeda sport dapat dilihat pada http://www.rijwiel.net./sportfin.htm

 

 

Penampakan Simplex Sport yang simpel, ringkas, dan cantik.

Salah satu sportfietsen koleksi pak Azharul Yusri adalah Simplex. Secara bentuk dan model desain terlihat tidak berbeda dengan karakteristik sepeda sport umumnya, yakni bentuk frame yang tidak terlalu tinggi, slebor yang ornamentik dan ramping, bagasi/boncengan yang melengkung dengan dudukan yang menyatu pada supitan vertikal. Bentuk bagasi/boncengan model belakang melengkung koleksi Simplexer dari Pekanbaru ini sebagai penanda model sport. Mirip dengan boncengan sepeda sport produk Batavus, Fongers Grand Sport, Gazelle,..dll.Yang membedakan adalah setangnya, terlihat oleh pemilik sebelum pak Azharul diganti dengan setang Simplex Toerfietsen. Ini menjadi PR yang cukup sulit, sebab penampakan Simplex Sportfietsen ini sangat jarang. Saya baru menjumpai 2 kali. Satu punya seorang pensiunan guru di Salatiga dengan model rem kabel. Yang kedua punya pak Azharul ini. Kalau mau mudah ya diganti setang sepeda sport non Simplex, misalnya PFG yang dihapus tulisan PFG-nya dengan gerinda (tapi ini bukan saran).Namun kembali pada khitah penggemar sepeda kuno, lebih baik diterima dengan ikhlas sebagai anugerah yang indah. Biarkan setang seperti itu jika tidak menemukan setang sport. Mungkin yang bagus adalah benahi ketengkasnya serta lengkapi dengan cover ketengkas dari moleskin/celuloid, biar pamor sepeda sport terlihat.

 

Andyt Andrian

Foto koleksi Simplex Sport pak Azharul Yusri

Sumber data : Herbert Kuner (1999)

 

Model sock/keni yang ornamentik serta model tutup garpu yang mengingatkan pada Simplex Cycloide Kruisframe tahun 1957 koleksi Andre Koopmans yang disitus ‘Onthelist With Love’

Bentuk tautan pada supitan belakang yang dicor dan nomer serinya

Ketengkas yang perlu dilengkapi dengan bagian belakangnya serta cover dari moleskin/celuloid