Simplex Priesterrijwiel

simplex-priesterijwiel.jpg

Sumber Brosur Herbert Kuner

 dsc_0027.JPG

Simplex tipe ini sangat jarang dipunyai individu karena diproduksi sebagai penghargaan pada pekerja rohani agama nasrani. Para pastur jaman dulu biasa menggunakan jubah, sehingga kalau naik sepeda jenis laki-laki sangat tidak memungkinkan, oleh karena itu hanya model dames/wanita saja yang bisa digunakan. Namun secara etis tidak ‘layak’ sebab pastur kan pria, kok pakai sepeda jenis wanita. Oleh karena itu dibuatlah model pristerrijwiel ini. Lihat juga di http://www.rijwiel.net/gallery/foto_6ee.htm seorang pastur dengan sepeda jenis ini.
Hampir semua pabrik sepeda mempunyai varian priesterrijwiel ini. Beberapa merk mempunyai model frame yang berbeda, seperti misalnya Gruno, atau Junker mempunyai bentuk yang berbeda dengan Simplex. Beberapa varian yang mirip Simplex adalah Burgers, Gazelle, lalu Empo, dan Batavus yakni menggunakan bentuk lengkungan dengan dua tuas yang menghubungkan dengan pipa miring framenya (lihat gambar). Makanya disana disebut sebagai ‘rijwiel voor HH Geestelijken’ yang seperti huruf H kembar.

Karena menjadi kendaraan dinas pastur, maka sepeda tipe ini menjadi bagian dari inventaris gereja yang tidak mungkin kondisi ‘second-hand’ nya diperjual-belikan secara bebas. Oleh karena itu sepeda ini makin sulit ditemukan di miliki oleh pendemen sepeda kuno independen. Kalau pun toh dimiliki asal usulnya juga kurang jelas, sebab kemungkinan adalah diberikan sebagai hadiah atau hibah atau dicuri dari gereja! Cuman biasanya penjual/pemilik sebelumnya nggak mengatakan asal-usulnya, biasanya hanya dikatakan kalau sepeda ini dijual sama pemilik sebelumnya, karena butuh uang. 

 dsc_0032.JPG

 Simplex priesterrijwiel ini dulu diketemukan di gudang daerah Malang selatan, lalu setelah dibersihkan dan dipompa jadilah sepeda yang cantik. Dilamar dengan mahar 2,5juta tahun 2003. Ukuran frame 620, dan bracket memakai konstruksi bearing (asli ukuran 50mm buatan Swedia), as pada bearing juga masih orisinil buatan Simplex. Karena bearing maka kayuhannya sangat ringan. Panjang rotel (setang kayuhan adalah 195mm, berbeda dengan untuk sepeda wanita yang hanya 165mm). Cat masih orisinil. Aslinya sepeda ini adalah torpedo, namun oleh pemiliknya kemudian dipasangi konstruksi rem tromol cycloide. Oleh Herbert Kuner justeru malah dikatakan lebih bagus pakai torpedo. Selera emang berbeda! Justeru dengan tromol justeru jadi enak mau digenjot kebelakang atau depan (pengaruh bearing), kalau pakai torpedo kan nggak bisa dikayuh ke belakang (jadi ngerem). Sehingga nggak tampak pengaruh enteng kayuhan ke belakang karena bearingnya. Ada-ada saja.

artikel & foto : Andyt 
 

Advertisements