SIMPLEX CYCLOIDE ELITE 11245

Simplexians people,

Sejarah per-Simplex-an dimulai ketika Charles Bingham mendirikan ‘Simplex
Automatic Machine Company’ pada tahun 1887, sejak saat itulah berdiri pabrik
sepeda Simplex. Perusahaan yang berlokasi di Amsterdamschestraarweg ini
berkembang pesat ketika Piet Leeuwenberg bergabung sebagai dewan direksi tahun
1893. Tiga tahun kemudian mereka pindah ke Overtoom (masih di Amsterdam) dan
menjadi besar dengan 100 orang pekerja yang memproduksi 5000 unit tak hanya
sepeda, tetapi juga sepeda motor, mobil dan kereta api, serta menjadi
perusahaan terbesar sepeda pancal dalam sejarah Belanda sampai beberapa tahun
kemudian. Pada tahun 1899 pabrik yang menggunakan nama ‘NV Simplex Machine
Rijwiel en Automobielfabrieken’ itu mengembangkan model-model jenis sepeda dan
alat angkutan model ontel, antara lain sepeda roda tiga untuk membawa pasien
sampai penemuan sistem model bearing yang diberi nama Cycloide dan dipatentkan
pada tahun 1909. Model Cycloide ini kemudian menjadi jenis sepeda Simplex yang
lebih mahal dibanding semua jenis sepeda yang dikeluarkannya.

Tahun 1927 mengeluarkan model torpedo persneling, dan sistem teromol yang
kemudian lazim digunakan sampai akhir tahun 1960-an. Salah satu yang
ditampilkan di sini adalah model rem karet. Simplex Cycloide rem karet ini
bernomor seri 11245. Pernah ditanyakan ke paguyuban persepedaan kuno
Belanda diperkirakan buatan sekitar tahun 1910. Hal ini mengacu dari sudut frame yang menciptakan jarak lebih pendek (bila dibandingkan sepeda buatan tahun 1940-an) antara titik ujung pipa di as sadel dengan ujung pipa di as setang. Maklumlah data produksi termusnahkan ketika Jerman menduduki Belanda tahun 1940-1944. 

Pada as tengah depan terdapat tulisan ‘Simplex Amsterdam Patent 1909’. Sepeda ini berasal dari Jawa Tengah lalu diboyong oleh salah seorang mantan anggota Paskas. Setelah beliau meninggal dunia maka sepeda ini sempat berpindah 3 pemilik berbeda sebelum sekarang dikoleksi oleh penggila dan pemerhati Simplex yang berdomisili di daerah Waru. Sepeda ini diklaim sebagai satu-satunya dengan kondisi instrumen rem masih sesuai dengan aslinya di Surabaya dan Sidoarjo. Konstruksi rem yang berbeda dan merupakan ciri khas model Simplex Cycloide lama, yakni menggunakan kawat baja diameter 8mm melengkung yang mengingatkan pada konstruksi rem Fongers edisi tahun 1905-1930 an. Rupanya model rem seperti itu hanya digunakan oleh sepeda-sepeda edisi ‘aristokrat’ di Belanda. Kelemahan dari konstruksi rem ini
(namun tidak ditemui pada Fongers) adalah setir tidak mampu dibelokkan 90
derajad karena terhalang oleh tuas rem, kelemahan kedua ada pada nipel yang
merupakan konverter sambungan pada pelat dan kawat rem yang total jumlahnya 5
buah di rem depan dan belakang. Kelemahan itulah yang kemudian membuat
konstruksi rem ini fragile alias mudah rusak sehingga makin sedikit yang
tersisa.

Kekhasan yang menambah keunikan berikutnya adalah model setang yang tuas remnya masuk kedalamnya. Model setang ini hanya diproduksi sampai tahun 1935 yang menandakan jenis Cycloide Elite, Luxe, dan jenis-jenis Simplex varian mahal.
Awam seringkali keliru menandakan setang ini sebagai setang Cycloide, sebab
Cycloide dan tidak (Neo) HANYA dibedakan dari besar bracket (keroncong) pada as
tengah, bukan pada setang. Karena bisa saja Simplex Neo menggunakan setang ini
tanpa harus mengganti konstruksi tuas rem pada tube depannya, seperti yang
dimiliki Dektisa dari Delta Puspa dengan Simplex Neo-Kruisframe rem karet
berstang model Cycloide.

Soal kenyamanan Simplex Cycloide Elite 11245 ini jangan ditanya lagi. Humas KOBA
(bung Alex) sudah merasakannya di suatu sore bulan Juli 2007 bersama calon
isteri saat itu. Komentar tentang kenyamanan membuat pemilik sepeda ini ‘sesak
baju’.

cycloide-elite-2.jpg

Simplex Cycloide Elite 11245

Continue reading