Simplex Sportfietsen

Sportfietsen berasal dari bahasa Belanda, ‘sport’ dan ‘fietsen’. Kata sport berarti olah raga dan fietsen atau fiets artinya sepeda. Istilah ini dipakai sebagai penyebutan untuk model sepeda tertentu menurut mereka. Sepeda Sportfietsen berbeda dengan ‘sepeda kebo’ (Toerfietsen) yang dikenal secara umum dan banyak dibahas dalam situs ini. Oleh Belanda sepeda Toerfietsen ini disebut sebagai sepeda opa atau juga sepeda pria (heerenfiets), sepeda oma atau sepeda dames (damesfiets). Intinya sepeda Toerfietsen adalah merujuk pada sepedanya orang tua. Oleh karena itu dengan alasan menciptakan bentuk sepeda yang modern dan mengikuti perkembangan trend maka diciptakanlah bentuk-bentuk baru yang bebas dari konotasi sepeda orang tua dan ketinggalan jaman (alasan produk, konsumen dan marketing). Sportfietsen mula-mula diciptakan Inggris sekitar tahun 1950. Perbedaan yang paling mendasar antara Sportfietsen dan Toerfietsen menurut konsep awalnya adalah pada besar roda. Toerfietsen menggunakan ban ukuran 28 inch sedangkan sportfietsen menggunakan 26 inch. Pada perkembangan berikutnya, sportfietsen juga mengalami perombakan dramatis pada bentuk frame dengan ukuran leher frame depan biasanya nggak terlalu tinggi (15-20cm), jarak antara sadel dengan setang yang cukup lebar sehingga pengemudi agak membungkuk (berbeda dengan jenis Toerfietsen yang jaraknya cukup pendek sehingga badan pengemudi cenderung tegak). Spakboard yang mengecil, cat yang colorfull (hijau, merah, biru, coklat muda, metalik, dan lain-lain. Sepeda sport cenderung dekoratif dengan berbagai ornamen pada bentuk sock/keni, transfer merek yang ‘meriah’ dan pemakaian nama-nama dagang yang menghebohkan, seperti Simplex Cote D’Azur, Simplex Victory, Batavus Flying Dutcman Arrows, Fongers Grand Sport, dll. Sepeda ini juga mengusung asesories yang meriah seperti penggunaan beraneka lampu, spotlight, reflector, bel berketrikan merek sepedanya, dan lain-lain.  Sportfietsen ternyata diterima oleh pasar dengan antusias karena sifatnya yang mudah dikendarai oleh siapapun (tua-muda,pria-wanita). Dalam dunia desain, ini disebut kecenderungan POP CULTURE. Suatu gejala di masyarakat yang menggemari sesuatu yang muncul dan diterima khalayak ramai. Pop Culture sebagai sebuah ekspresi yang sifatnya sementara dan gampang berubah.

Salah satu ciri yang mencolok pada perkembangan sepeda sport ini adalah tampilan yang ‘penuh hiasan’, berwarna lebih menarik dari sekedar hitam atau hijau botol ciri umumnya sepeda toerfietsen. Sportfietsen juga menampilkan aneka ragam asesories atau hiasan sebagai pemanisnya. Agaknya kecenderungan ini kemudian diadopsi oleh penggemar sepeda kuno di Eropa dan Indonesia pada sepeda koleksinya yang bukan kategori Sportfietsen. Sehingga sekarang banyak ontelers yang mendandani sepeda kuno non sportfietsen koleksinya menggunakan berbagai asesories yang ramai dan menghebohkan selayaknya sportfietsen. Pada perkembangan berikutnya produsen sepeda tidak lagi memperhatikan pakem awal kriteria sportfietsen dengan toerfietsen, sehingga muncul sepeda toerfietsen yang beraneka warna dan penuh hiasan. Bermunculan pula sepeda sportfietsen yang menggunakan ukuran ban 28 dan berukuran tinggi. Di Indonesia orang biasa menyebut sportfietsen yang menggunakan ban 26 sebagai ‘jengki’ sedangkan yang ukuran ban 28 ada yang menyebut sebagai ‘sepeda kebo’ ada pula yang ‘sepeda pelayaran’ karena didatangkan orang melalui kapal dari Singapura. Serba-serbi model sepeda sport dapat dilihat pada http://www.rijwiel.net./sportfin.htm

 

 

Penampakan Simplex Sport yang simpel, ringkas, dan cantik.

Salah satu sportfietsen koleksi pak Azharul Yusri adalah Simplex. Secara bentuk dan model desain terlihat tidak berbeda dengan karakteristik sepeda sport umumnya, yakni bentuk frame yang tidak terlalu tinggi, slebor yang ornamentik dan ramping, bagasi/boncengan yang melengkung dengan dudukan yang menyatu pada supitan vertikal. Bentuk bagasi/boncengan model belakang melengkung koleksi Simplexer dari Pekanbaru ini sebagai penanda model sport. Mirip dengan boncengan sepeda sport produk Batavus, Fongers Grand Sport, Gazelle,..dll.Yang membedakan adalah setangnya, terlihat oleh pemilik sebelum pak Azharul diganti dengan setang Simplex Toerfietsen. Ini menjadi PR yang cukup sulit, sebab penampakan Simplex Sportfietsen ini sangat jarang. Saya baru menjumpai 2 kali. Satu punya seorang pensiunan guru di Salatiga dengan model rem kabel. Yang kedua punya pak Azharul ini. Kalau mau mudah ya diganti setang sepeda sport non Simplex, misalnya PFG yang dihapus tulisan PFG-nya dengan gerinda (tapi ini bukan saran).Namun kembali pada khitah penggemar sepeda kuno, lebih baik diterima dengan ikhlas sebagai anugerah yang indah. Biarkan setang seperti itu jika tidak menemukan setang sport. Mungkin yang bagus adalah benahi ketengkasnya serta lengkapi dengan cover ketengkas dari moleskin/celuloid, biar pamor sepeda sport terlihat.

 

Andyt Andrian

Foto koleksi Simplex Sport pak Azharul Yusri

Sumber data : Herbert Kuner (1999)

 

Model sock/keni yang ornamentik serta model tutup garpu yang mengingatkan pada Simplex Cycloide Kruisframe tahun 1957 koleksi Andre Koopmans yang disitus ‘Onthelist With Love’

Bentuk tautan pada supitan belakang yang dicor dan nomer serinya

Ketengkas yang perlu dilengkapi dengan bagian belakangnya serta cover dari moleskin/celuloid 

53 Responses

  1. wah akhirnya simplex sportnya lari ke pa azharul,klo ga salah di bawah bracket ada seri dengan angka timbul ya

  2. halim,
    ini sepeda yang ente pernah bilang yah waktu ke rumah ane, bekas punya anak bekasi yang make anak SMP,

    mas andyt,
    sayang stangnya yah sdh diganti, mungkin diganti karena kalo orang yang agak panjang kakinya sering mentok ke stang.
    sy sudah beberapa kali berpapasan dan liatnya sepintas jenis sepeda ini, lagi ngangkat peti telor, stangnya model kalong mirip phoenik yang di pake tukang somay, rem model kabel, tube depan sama, spakbor cuma depan saja, kalo tidak salah liat hamblem mirip huruf S dan warnanya cendrung berwarna putih, bukan kuning ke emas-emasan, saya tadinya mau menyetopnya karena lalulintas lagi ramai dan takut macet, akhirnya tidak jadi, sebetulnya sih hanya mau mastiin aja ini simplex atau bukan…

    Sayang sekali, kalau ane mah, hajar saja, soalna ini teh sepeda langka, euy😛

  3. Mas Andyt,
    Thanks mas udah membahas simplex sport saya. Tugas berat untuk saya melengkapi bagian belakang ketengkas nya serta cover dari moleskin/celuloid. Ada info mas dimana saya bisa melengkapinya? Salam kenal juga buat pak Halim POC, mas JANA..

  4. P.Azharul, selamat dan Bpk layak dapat BINTANG……he he he………………………….
    P.Andyt, salam kompak selalu………………..aduh lama yach kita nggak saling kontak ( oleh karena kesibukan masing – masing )……………………….dan sekarang dapat saling menyapa kembali dalam acara yg sama “NGONTEL TERUSSSSSSSSSSSSS……………………………………he he he……………….
    buat P.Halim……..apa kabar??? …………sibuk yach??……simplek sport nya P.Azharul Bagus yach…………

  5. P H4r siapa dulu donk PRIA PUNYA SELERA…… p Halim kebagian apa mas? Simplex Cycloide nya atau Fongers BB nya? he he he…………..

  6. Mas Andyt, tampilin donk Simplex-Simplex yang lain
    termasuk Simplex Cycloide 680mm punya Mas Andyt.
    Pengen liat ni..,

  7. salam kenal bang Azharur,
    heheh salah yah,… waktu itu Halim POC main ke tempat saya, dan cerita simplex sport, yah saya pikir sepedanya ini, maaf yah bang kalo salah…..
    ngomong2, pekanbarunya dimana bang azharur..?, saya pernah main ke tempat kakak bapak saya, di daerah tangkerang kalo tdk salah di jalan wonosari

  8. buat Pak Har alias Pria Punya Selera,
    Lama juga kita nggak sua, kangen juga denger ketawanya pak Har yang khas, hahaha… Apapun kesibukannya yang jelas tetap cinta onthel terus dan persodaraan kita tetap jalan terus. Sukses pak Har! Ngomong-omong koleksinya sudah nambah berapa lagi? Kirimkan ke saya donk fotonya biar nanti kupajang di sini. Suwun pak Har.

    buat mas Niko,
    Keistimewaan 680 hanya di ukuran saja, yang lain (onderdil, kenyamanan, ukuran dimensi braket, setang, ukuran pipa, dll) sama dengan Cycloide Luxe 620 atau 580 yang sudah dibahas di situs ini, sehingga nggak terlalu istimewa. Itu sepeda hasil barter dengan Humber CD 1948 (ada kuitansinya) dengan seorang bapak sepuh pensiunan guru madrasah aliyah negeri di Bojonegoro medio 2005 lalu. Sepeda itu punya ayahnya atau saudaranya (?) beliau nggak sanggup menaiki karena terlalu tinggi, oleh karena itu lebih banyak disimpan digudang dibanding dinaiki. Saya beruntung sekali, sebab mereka nggak paham kalau yang disimpannya itu Cycloide Luxe seri 2 ukuran 680.

  9. Kayaknya langka banget tu cycloide 680mm, setahuku cuma Mas Andyt dan Pak Sunarto Palangkaraya yang punya. Pak Sunarto dapat di tanah kelahirannya Cilacap cuma 1,5jt.

  10. Saya kira Cycloide 680mm sangat istimewa karena
    dapat ditemukan di Indonesia yang umumnya berbadan pendek, pastinya sangat langka.

  11. Kemungkinan mendapat sepeda yang berukuran diatas rata-rata pemakai di Indonesia selalu terbuka. HZ65 kudapat dari kerabat kraton Jogja melalui pak Yudi Marcopolo. Si pemilik pertama HZ65 itu memang bertubuh tinggi (170 cm lebih) dan berkaki panjang walau asli orang Jogja.

    Sedangkan kemungkinan kedua adalah pemilik pertama orang Belanda yang dulu bertugas di Indonesia. Ada beberapa cerita dari teman-teman sepeda yang memperoleh sepeda dari leluhurnya yang mendapatkannya dari bekas pakai Belanda yang meninggalkan Indonesia.

    Apabila dilihat dari perbandingan ukuran antara Simplex Cycloide 680 dengan Fongers 65, maka sebenarnya nggak berbeda sama sekali. Apabila metode pengukuran ala Simplex diterapkan pada Fongers, maka HZ65 ukurannya sama dengan 680. Fongers mengacu hanya pada panjang pipanya saja, sedangkan Simplex panjang pipa plus diameter braket, sehingga ketemu 650mm (panjang pipa) + 30mm (dari tepi sampai titik tengah braket). Maka total jadi 680.

    Persoalan mengapa Simplex ukuran 680 lebih sulit ditemukan dibanding Fongers ukuran 65 ini yang menjadi pertanyaan mendasar. Apakah karena pertimbangan harga? Brand Fongers yang aristocrat bicycle memang lebih bergengsi bila dibanding Simplex Cycloide yang harganya mahal tapi bukan dipersepsi sebagai sepeda kaum aristokrat. Bung Karno saja tidak terlihat punya Simplex namun Fongers. Atau karena persoalan bearing yang onderdilnya jadi lebih mahal dan relatif sulit ditemukan dibanding model cup-and cone yang digunakan di Fongers. Ini pertanyaan yang sudah saya gumulkan sejak saya mendapatkan Simplex ukuran tinggi.

    Sebenarnya ada satu lagi Simplex ukuran 680 Neo kepunyaan pensiunan instruktur di angkatan udara yang tinggal di Maospati, Madiun. Beliau mendapatkan sepeda itu dari kepala instruktur mesin pesawat MIG yang kebetulan kebangsaan Belanda sekitar tahun 1970-an. Oleh anaknya, sepeda pemberian boss ayahnya itu lalu dipelihara dan dipakai sesekali puter-puter Maospati. Suatu saat ketemu Andyt dan dinego sampai nangis kingkong nggak juga dilepas. Nggak tahu sekarang sepeda itu masih ada atau sudah dimiliki orang lain.

    Namun sebenarnya dari sekian sepeda Simplex yang paling sulit ditemukan adalah Simplex Pastur.

  12. mas andyt saya mau tanya nech,
    kalau warna spakbor belakang fongers itu warna putih atau hitam mas sama kayak warna frame…soalnya saya lagi restorasi fongers mas,
    terima kasih,
    nuhun..

  13. mas Bejo,
    Dilihat dari tahun produksinya, jika itu Fongers sebelum tahun 1930, maka tanpa warna putih. Warna putih itu akibat undang-undang lalu lintas yang berlaku di Belanda-Belgia-Luxemburg (Traffic Cumpolsary) berkenaan dengan aturan memakai warna putih dan reflektor bagi sepeda, hal itu diberlakukan pada 30 Juni 1930.

  14. mas Andyt,
    waduh makasih banget lho mas infonya, nmr fongers saya yg tube depan DF 55 sedangkan di frame 6129-94 berarti masuk kategori putih ya soalnya kalau saya baca di kupasan mas Andyt, sepeda saya berarti buatan tahun 1961..ya kan mas??wah mas Andyt ini bener2 hebat..makasih mas
    matur nuwun..

  15. satu lagi mas,
    saya ditawarin sepeda fongers Martini…itu apa sech mas, emang ada ya, masuk kategori apa, terus rare apa ga?
    makasih mas…

  16. Fongers Martini aku belum pernah tahu, mungkin pula termasuk rare. Supaya jelas, silakan dikirim foto dari samping kiri, kanan, depan, dan belakang serta nomer serinya, atau hal-hal yang membuat berbeda dari kebanyakan, misalnya nomer seri di bagian as atau ada jalu kecil, atau dudukan lampu di frame, dll ke alamat emailku saja. Semoga nanti bisa diidentifikasikan.

  17. Fongers Martini biasanya sebutan lain dari Fongers PFG Grand Sport.

  18. salah liat kali pak. Majesti tuh bkn Martini ni cuba kau tengok di http://www.rijwiel.net./fietsen/fon/a01455.htm

  19. orang sekitar Jogja menyebut Fongers PFG Grand Sport sebagai Fongers Martini. Aku juga gak tau kenapa bisa disebut begitu. Coba Jajal tanya orang-orang Jogja.

  20. Itu fenomena sosial yang sangat kualitatif. Kadangkala orang Jawa punya nama sendiri untuk menyebut sepeda sesuai dengan karakteristik dan analogi mereka. Kayak Simplex gapit, Gazelle palang, Raleigh gondel, Hima polisi, Gazelle gothang, dll.

    Bulan Februari 2008 lalu saya membeli Fongers Grand Sport 1963 dari link pak Soerojo (asli Jogja sang master Gazelle), namun tak sepatah katapun tentang istilah Martini disebutnya. Saya yang kelahiran Nganti, Sleman dan besar di Petinggen dekat Turi (termasuk juga orang Jogja), namun kok belum pernah juga dengar Fongers Martini ya😛 Mungkin Dr. Sahid, atau mas Rustam, atau pak Yudi Marcopolo, atau mungkin mbah Kuncen, atau pak Ngatidjo yang juga orang Jogja bisa ngasih komentar?

    Orang Jogja yang manakah yang anda sebutkan itu?

  21. Betul sekali pengamatan mas Winahyu,😛
    Fongers yang sampeyan sebutkan itu memang diistilahkan sebagai Majesti di Belanda sana. Itu termasuk kategori Sportfietsen. Kalau itu yang dimaksud mas Bejo sebagai Fongers Martini, berarti termasuk langka. Paling tidak di Surabaya sejak event sepeda tahun 2002 belum pernah terlihat satupun jenis yang itu.

  22. Mas Andyt, Coba sampean minta penjelasan dari
    Yudi Marcopolo tentang apa itu Fongers Martini?
    Silahkan tanya langsung..,

  23. Coba tanya langsung dengan nama-nama diatas yang anda sebutkan, pasti mereka bisa kasih penjelasan tentang apa itu Fongers Martini atau ada juga yang menyebut Fongers Irian.

  24. Maaf tidak hanya Grand Sport, tapi sebutan untuk umumnya PFG.

  25. Oke, saya akan tanya mereka kalau ketemu, ini fenomena yang menarik, mengapa Grand Sport disebut Fongers Martini. Namun sebagaimana situs ini khusus untuk Simplex maka diskusi tentang Fongers disudahi karena nggak cocok dengan Tag Line di atas. Harap maklum.

  26. bwahahah..nah gt dong..dari kemaren harusnya case close

  27. he..he..maaf mas Andyt jadi ngebahas Fongers nech, nanti aja mas saya email ke mas Andyt aj fotonya, lewat japri aja jd ga nyalahin tag disini..maaf mas, matur suwun

    @mr.t : emang udah case close kok kang…nuhun

  28. mungkin Kang T atau mas Heru selaku pengelola situs ini untuk memikirkan tambahan situs semacam Fongers Case, atau Rembug Gazelle, atau Komunitas Raleigh atau Forum bebas untuk berbagai merek sepeda yang aneh, misalnya Legiun Prancis, atau Tse she Phoenix (ini Phoenix dlm basa Tiongkok), atau apalah.. mangga tarik mang!

  29. heheh..kan sudah ada sepeda wordpress mas….

  30. FOR SIMPLEX ONLY

  31. Ane juga tahunya dari mereka-mereka yang antum sebutkan,he..,

  32. mohon maaf pengelola ‘SIMPLEXFORUM’ numpang info di situsmu.

    Teman-teman tersayang,
    silakan di klik di:

    http://xframe.wordpress.com/2008/09/17/fongers-bb60-303-2-1930-rem-botol/

    ada Fongers BB 1930 ‘Rem Botol’ yang menarik untuk tambahan pengetahuan dan informasi terutama bagi mereka yang mempunyai Fongers BB rem botol yang mangkrak dan berniat merestorasinya bisa sebagai acuan.

    Suwun

  33. Bang Jana, saya tinggal di Jl.Pattimura no.7,Kompleks Univ. Riau, deket koq ke Jl. Wonosari, Tangkerang. Kalo lagi ke Pekanbaru hub saya 08127511869, ntar kita ngonthel bareng teman2. di sini. Salam…

  34. insya Allah pak Azharul, kalo ada kesempatan ke Pekanbaru pasti saya berkunjung ke tempat bapak

  35. Mohon maaf ikut nimbrung soal Fongers Martini, setahu saya di daerah saya ( Cirebon ) yang disebut Fongers Martini itu sepeda Merk Fongers ukurannya/bentuknya jengki horozontal frame tapi kruisframe, cover kettingkas pakai moleskin/celuloid/plastik imitasi, ban nya ukuran 26.

    Sepeda ini jarang diketemukan yang saya tahu yang pakai cuma satu orang anaknya orang kaya di Desa sekitar Thn. 1960 – 1970.

    Demikian informasi dari saya, sekali lagi kalau tidak benar saya mohon maaf, terima kasih

    Lain ladang lain belalang, lain tempat lain pula istilahnya. Saya pribadi lebih suka menyebutnya sesuai dengan apa yang dilakukan oleh produsennya. Yakni tetap Fongers Grand Sport. Terimakasih infonya pak Bandi, di Sidoarjo sepeda jenis ini paling nggak dipunyai dua orang, satu mas Broil dan yang kedua isterinya mas Andyt.

  36. halo temen2.saya lagi ngidam fongers BB60 heren..syukur2 yg ori.mhn infokan ke spirit_hati@yahoo.com..ditunggu banget lho…tks a lot..

    itu sepeda amat langka mas..makin langka lagi karena sampeyan nyarinya di situs Simplex.😛

  37. Hua HaHaHa… Mas Andyt bisa aja… Mestinya jadi pasien saya karena lagi ngidam…

  38. heran ane, orang sekarang ngidamnya aneh-aneh, Simplex Gapit, Fongers BB, Gazelle palang, Frame S, Sepeda Pakrad (Bunton;istilahe kang Hardi). Udah gitu yang ngidam juga nggak semua wanita…akeh wong lanang ngidam,😛

  39. Pak Az,
    pernahkah meng USG orang ngidam sepeda? mungkin hasil fotonya bisa dikirim ke emailku Barangkali perutnya berisi supitan garpu belakang, atau sadel Terry, atau mungkin setopan kalong (Batavus). Aku gak bisa bayangin kalau perutnya guedee.. mungkin isinya frame Humber ukuran 22..

    wakakakaka…

  40. wakakakak….kayaknya nggak mungkin mas kalau garpu sama sadel, palingan bel, reflector, pedal, baud dan emblem2…seru…nah pas sakit perut tinggal..bwahahahah..pada nungguin..

  41. hahahah, kalo perut isinya sparepart sepeda itu bukan ngidam tapi kena santet…wkakkakak…

  42. pengalaman pribadi ya mas agung..hahahhah…, mas andyt tutup garpu S hampir sama dg model sunbeam untuk yang ada logo S nya..ane pernah nemu kirain buat S ..hehehe

  43. mungkin tahunnya sama, sehingga itu jadi model/trend, atau jangan-jangan salah satu dari mereka yang niru….
    Sebab Simplex Kruisframe yang dibuat tahun 1935-1957 saja adalah ‘tiruan’ dari sepeda Centaur Lighwork, Inggris. Yang diproduksi sekitar tahun 1904-1908.

  44. mas aku punya locomotive amsterdam persis kayak gitu apa locomotive merger dengan simplek…mohon petunjuk mas.

    • persis bgt ma sepeda aku…si locomotive amsterdam sayang.. da ada 4 orang yg nawar tapi aku gk kasih..gatau deh kalo aku berubah pikiran tapi selama aku nongkrong di bunderan HI setiap minggu pagi aku lihat2 kesana kemari tdk ada sepeda seperti punya aku si locomotive amsterdam sayang…

  45. Mohon pencerahan mau cari lambang simplex , ada yg punya ?? mohon petunjuk mas……

  46. kalo yang di blog ku ini serinya apa ya? cuma tau merk nya simplex keluaran 1888. ada yang bisa bantu historinya?

    matur suwun

  47. Tahun 1887 : pabriknya didirikan di Utrecht Stationdwarsstraat (di Jalan Stasiun) dengan nama “Simplex Automatic Machine Company”.

    Pendirinya seorang berkebangsaan Inggris, Charles Bingham.

    Tahun 1890 : Simplex memulai produksi sepedanya secara lengkap / utuh.

    Piet Leeuwenberg dari Dekft pendirinya dan Charles Bingham masuk menjadi dewan direksinya tahun 1893. Keluarga Leeuwenberg menjadi wakil direksinya sampai tahun 1954.

    Produksi sepeda Simplex pada tahun1896 telah mencapai 5000 buah sepeda setelah pindah tempat di Overtoom, Amsterdam. Tahun inilah Simplex mendapatkan status sebagai pabrik sepeda terbesar di Amsterdam.

    Tahun 1899 : pabrik sepeda ini bernama NV Simplex, pabrik mesin, sepeda, dan motor.

    Tahun 1908 : Simplex meluncurkan sebuah model sepeda roda tiga (khususnya untuk mengangkut orang sakit). Model ini secara tidak langsung untuk angkutan jarak jauh.

    Tahun 1939 : Simplex memperkenalkan sebuah sepeda alumunium dengan berat 12 kg.

    Produksi terhenti akibat perang antara tahun 1943 akhir tahun 1945.

    Tahun 1952 : Simplex bergabung dengan Locomotief, dan sekitar tahun 1960 telah menghasilkan 55.000 sepeda. Berarti telah memberikan kontriusi 10% dari produksi sepeda di Belanda.

    Produksi Simplex meningkat sampai 70.000 setelah pindah ke pabrik yang lebih besar di Jalan Pilot (Pilotenstraat Amsterdam).

    Tahun 1955 : adalah tahun produksi Simplex yang ke Satu Juta unit sepeda.

    Tahun 1967 : Simplex, Locomotief dan Junke bergabung menjadi gabungan pabrik sepeda Belanda (Verenigde Nederlandse Rijwielfabriek)

    Tahun 1968 : Gazelle mengambil alih perusahaan Simplex

    Tahun 2000 Gazelle menjual nama merek Simplex pada sebuah gabungan pembeli roda dua dari Jerman (ZEG) yang juga aktif di Belanda
    Di copi dari
    b0n4nz4 (08:51:12) :

  48. Kalau 1888 sdh memproduksi sedangkan menurut catatan simplex baru memproduksi utuh tahun 1890, jadi apa benar keluaran tahun segitu ? dan sepengethauan saya ( maaf juga msh perlu banyak belajar ) belum melihat simplex yang pre 1890. jadi masih sangsi dengan tahun spdnya . semoga bisa membantu.
    mbah sangkil banyak sekali info yang bisa dijadikan pelajran tentang spd simplex di forum ini, jika di baca dari beberapa tulisan mas andyt.

  49. perlu untuk memikirkan lagi apa benar simplex tersebut di buat tahun segitu ?

  50. Mas Andyt dan kawula Simplex yth.

    Saya ditawari frame sepeda yang katanya frame Simplex. Saya mohon bantuannya karena ada keraguan mengenai letak serial number yang berada dibagian bawah gear, karena seperti yang biasa saya lihat serial number selalu atau kebanyakan ada di batangan dibawah sadel.

    Maaf saya belum sempat melihat lebih jelas berapa serial numbernya dan tidak bisa posting gambarnya. …..

    Atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.

    salam,
    Murdowo

  51. model sportfietsen kayak gini dijogja ada yg mau nglepas gan

  52. sya punya sepeda no seri S15311 kyaknya jenis smplek yang apa dibwh sadel tmpt pompa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: