Perbedaan Cycloide dengan Neo (part 2)

Salah seorang rekan meragukan keaslian Simplex Cycloide seri 2 tunggangannya karena sepeda itu memakai torpedo FSB ‘cap burung’ dan jumlah jeruji roda depan 32 dan belakang 40. Rekan berbeda menanyakan apakah Simplex miliknya  dapat disebut Cycloide sedangkan besar braket hanya 38mm namun supitan vertical menyatu dicor dengan garpu belakang. Sementara ada juga yang merasa bahwa sepedanya Cycloide hanya karena setangnya tipe special handlebar (model tuas rem masuk di batang pipa setang).  

Kerancuan opini publik Indonesia tentang perbedaan Simplex model Cycloide dengan Neo juga seperti yang terjadi di negara-negara Eropa. Paling tidak hal inilah yang ditekankan dalam situs Simplex di www.rijwiel.net oleh Herbert Kuner sejak 1996 lalu. Simplex adalah sepeda yang banyak dipakai dan mendapat respon yang luar biasa sejak dipasarkan mula-mula. Banyak varian Simplex yang diproduksi berdasarkan tingkat kondisi masyarakat, mulai dari yang paling murah, sampai yang paling mahal, paling sukses sampai yang dianggap produk gagal sehingga menjadi andil makin bangkrutnya pabrik Simplex yang kemudian diakuisisi oleh Locomotief.

Jika merujuk pada kategori dasar karakteristik Simplex, hanya ada model Neo dengan harga yang dianggap murah dan model Cycloide yang lebih mahal (saat itu). Perbedaan ini hanya pada ukuran besar braket (lobang pada as tengah tempat unit kayuhan berada), lalu kondisi braket. Model Neo dengan ukuran diameter lobang dalam 38mm menggunakan sistem Thompson cup-and cone. Sementara model Cycloide mempunyai ukuran besar diameter dalam 40mm menggunakan sistem bearing, buatan Swedia, terdapat tutup pada bagian braket (lihat keterangan B pada gambar bawah). Sebenarnya hanya ini saja yang membedakan sepeda Simplex itu disebut Neo atau Cycloide.

 

Dudukan/cenilan pada frame penanda transmisi rem tromol (A). Tutup braket sebagai penanda model Cycloide yang harus ada pada setiap model Cycloide (B)

Hampir setiap sepeda produksi Belanda dipasarkan selalu menggunakan opsi pilihan yang menyesuaikan kondisi masyarakat terutama berkaitan dengan kebiasaan, kondisi jalan, dan kemampuan daya beli. Demikian pula Simplex. Sepeda ini dipasarkan menggunakan 3 pilihan opsi berbeda yang mengacu pada jenis remnya.

Perbedaan ini menimbulkan perbedaan harga yang cukup beragam dan mencolok. Paling murah adalah sepeda dengan model rem karet (bandremm), lalu harganya lebih mahal jika menggunakan model rem coaster-hub atau torpedo menurut istilah Indonesia. Di atas itu adalah sepeda dengan model rem tromol (trommelrem), dan yang paling mahal adalah sepeda dengan model rem tromol persneling Sturmey Archer (SA). Selisih harga antara model rem karet dengan model rem tromol persneling cukup jauh sehingga hampir dua kali lipatnya. Artinya membeli satu unit sepeda tromol persneling adalah hampir setara dengan dua unit sepeda sama model rem karet. Oleh karenanya di masyarakat Indonesia tempo dulu bunyi ‘cik-cik-cik’ tromol persneling menjadi indikator tingkat kesejahteraan penunggang sepeda tersebut.

 

Brosur Simplex Cycloide Elite tahun 1935, perhatikan perbedaan harga tromol dengan rem karet. Jaman segitu belum ada Simplex model tromol persneling.

 

 

Rem karet, torpedo, tromol atau tromol persneling memang menjadi asesories yang bisa dipindah-bongkar pasangkan ke setiap sepeda, oleh karenanya agar mempunyai kesan orisinil opsi model tersebut, maka produsen juga menambahkan unsur-unsur pendukung yang menempel khusus dan menyatu pada frame. Memang tidak tertutup kemungkinan pembeli sepeda model rem karet (yang paling murah) mengganti dengan rem tromol persneling  hanya  dengan menukar unit rodanya, namun dengan konstruksi dudukan yang berbeda di frame maka proses menjadi tidak semudah itu. Dudukan rem karet dengan rem tromol berbeda, apalagi frame sepeda model torpedo dengan frame sepeda opsi rem tromol/rem karet, pasti secara orisinil tidak terdapat dudukan/cenilan (bahasa Jawa) di frame sebagai tempat/jalur transmisi kawat remnya. Mulailah orang merekayasa, misalnya dengan menambah cenilan di frame sepeda model torpedo, atau membuang cenilan dudukan rem karet ketika mengganti rem menjadi torpedo. Termasuk juga mengganti setang menjadi setang tanpa tuas rem (setang torpedo). Torpedo juga mempunyai jenis berbeda dari sisi jumlah lobang (36 atau 40), atau dari sisi merek (FSB, Backson, Perry, Styria, Sach, Bosch, dll). Dari sisi jumlah gigi gearnya yang kesemuanya dapat diperoleh mudah di pasaran saat itu. Misalnya pengemudi sepeda yang tinggal di Bandung yang penuh tanjakan akan membeli torpedo dengan gigi gear yang lebih besar dibanding yang ada di Jogjakarta atau Surabaya yang kondisi topografinya datar. Di samping ada begitu banyak alasan pemilihan merek torpedo yang sebagian besar buatan Jerman itu. Memang kebanyakan sepeda Belanda menggunakan roda dengan jeruji 36, namun ini bukan harga mati, sebab bagi orang Belanda umumnya, torpedo adalah bagian dari asesories/unit yang bisa aus dan diganti-ganti sesuai kebutuhan, oleh karenanya mereka tidak fanatik pada produk yang dianggap ‘bawaan orisinal’nya. Kalau susah didapat, kalau harganya tidak cocok, atau kalau dianggap kurang awet, atau alasan-alasan lainnya, maka konsumen menjadi tidak peduli dengan anggapan opsi orisinilnya. Hal ini juga terjadi pada masyarakat sekarang yang menggonta-ganti onderdil/asesories sepeda motor/mobilnya dengan beragam alasan dan tidak lagi memperhatikan fanatisme pada faktor bawaan pabrik atau saran perusahaan.

 

Bagi orang Belanda kebanyakan sepeda adalah framenya. Kecuali jika ada hal-hal tertentu yang harus melekat karena kondisi frame, misalnya Simplex Pastur, harus Cycloide menggunakan torpedo, dan harus mempunyai setang kayuhan (rottel) berukuran di atas 160mm. Sebab kalau tidak, berarti itu sepeda Dames, atau bukan kendaraan bagi pastur. Baca protes Kuner di Simplex Priesterrijwiel ketika saya ganti setang dengan special handlebaar, dan torpedonya dengan tromol cycloide. Dia bilang sepeda saya bukan sepeda pastur lagi. Cuek aja…yang penting saya hepi. Oleh karena itu menjadi jelas bahwa antara model Neo dengan Cycloide tidak berhubungan dengan opsi model rem (karet, torpedo, tromol, dan tromol persneling). Atau jenis setangnya. Semoga bermanfaat.

Andyt Andrian,

Foto Simplex Cycloide Elite seri 2 (1940) koleksi Yudi Prasetyo

Source Authority and Broscure data : Herbert Kuner (2003)

 

 

Cenilan sebagai penanda jalur rem karet atau tromol yang menempel fix di frame,

namun oleh pemilik sebelum mas Yudi, sepeda ini diubah menjadi opsi model torpedo.

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.