Neo Dames Torpedo eks Pedjuang

Simplexer semua,

Sakti Winardi seorang penggemar Simplex berbagi pengalaman ketika berburu sepeda lama. Begini kisahnya: Waktu tahun 2003, istriku lagi mengandung anakku yang kedua.
pada waktu hamil +/- 3 bulan aku kepingin punya sepeda simplek. (kata orang tua yang ngidam bapaknya) akhirnya, pada medio  2003 aku dibantu kakakku mulailah berburu sepeda demi si jabang bayi. Ternyata untuk mendapatkan sepeda sesuai keinginan, butuh waktu lama kira-kira hampir 6 bulan, hamir setiap malam sabtu dan minggu, aku pulang kampung halaman di Pekalongan. Ternyata buka hanya di Pekalongan yang saya cari, sampai sampai ke Pemalang, Comal, Kedungwuni, Batang dan daerah sekitar Brebes. Dengan berburu yang tidak ada hasil, aku dan kakakku hampir-hampir menyerah untuk mendapatkan sepeda sesuai keingin, dan akhirnya dapat juga dengan cara yang tidak sengaja.Pas kakakku lagi berburu, dan tidak mendapatkan, akhirnya kakakku nongkrong di warung kopi di daerah Comal dan kebetulan pas nongkrong tersebut ada kakek-kakek yang dengerin obrolannya. dan ternyata kakek tersebut punyai sepeda Simplek 2 buah dan 1 buah tak pinang sampai sekarang. Ada yang unik sebenarnya pas dapat sepeda tersebut, ternyata kakek yang punya sepeda sebelumnya nanya adik dari mana? anak siapa dll. Ternyata si kakek adalah teman almarhum bapakku waktu jaman merebut kemerdekaan. Menurut si kakek sebagai ungkapan penyambung sedulur yang telah putus, maka sepeda itu dilepas. tetapi dengan syarat tolong sepeda tersebut jangan sampai di jual. Alhamdullilah sampai sekarang terjalin hubungan silaturahim dengan si kakek. Berikut ini sepeda yang aku punya dengan spesifikasi:
Merk Simplek
Pelek depan belakang 36 lubang mereknya tidak ada.
Lampu komplit merk bosch
nomor rangka 73296
As krocong 38 mm pakai mangkok dan dibawahnya ada tulisan NERVEX dan ada angka 11 atau 12 digit aku lupa
rem merk Perry 36 lobang jari-jari dan ada angka 13 (13 maksudnya apa ya mas?)
gir depan YY
Sadel merk KMD
Boncengan merknya five rams
Kuncinya jelek mas merek wing 276
Ukuran 580mm
Mohon komentar apa saja yang perlu ditambah biar orisinil.

Tampak depan

Anakku yang waktu masih hamil aku ngidam sepeda tersebut

Simplex Sportfietsen

Sportfietsen berasal dari bahasa Belanda, ‘sport’ dan ‘fietsen’. Kata sport berarti olah raga dan fietsen atau fiets artinya sepeda. Istilah ini dipakai sebagai penyebutan untuk model sepeda tertentu menurut mereka. Sepeda Sportfietsen berbeda dengan ‘sepeda kebo’ (Toerfietsen) yang dikenal secara umum dan banyak dibahas dalam situs ini. Oleh Belanda sepeda Toerfietsen ini disebut sebagai sepeda opa atau juga sepeda pria (heerenfiets), sepeda oma atau sepeda dames (damesfiets). Intinya sepeda Toerfietsen adalah merujuk pada sepedanya orang tua. Oleh karena itu dengan alasan menciptakan bentuk sepeda yang modern dan mengikuti perkembangan trend maka diciptakanlah bentuk-bentuk baru yang bebas dari konotasi sepeda orang tua dan ketinggalan jaman (alasan produk, konsumen dan marketing). Sportfietsen mula-mula diciptakan Inggris sekitar tahun 1950. Perbedaan yang paling mendasar antara Sportfietsen dan Toerfietsen menurut konsep awalnya adalah pada besar roda. Toerfietsen menggunakan ban ukuran 28 inch sedangkan sportfietsen menggunakan 26 inch. Pada perkembangan berikutnya, sportfietsen juga mengalami perombakan dramatis pada bentuk frame dengan ukuran leher frame depan biasanya nggak terlalu tinggi (15-20cm), jarak antara sadel dengan setang yang cukup lebar sehingga pengemudi agak membungkuk (berbeda dengan jenis Toerfietsen yang jaraknya cukup pendek sehingga badan pengemudi cenderung tegak). Spakboard yang mengecil, cat yang colorfull (hijau, merah, biru, coklat muda, metalik, dan lain-lain. Sepeda sport cenderung dekoratif dengan berbagai ornamen pada bentuk sock/keni, transfer merek yang ‘meriah’ dan pemakaian nama-nama dagang yang menghebohkan, seperti Simplex Cote D’Azur, Simplex Victory, Batavus Flying Dutcman Arrows, Fongers Grand Sport, dll. Sepeda ini juga mengusung asesories yang meriah seperti penggunaan beraneka lampu, spotlight, reflector, bel berketrikan merek sepedanya, dan lain-lain.  Sportfietsen ternyata diterima oleh pasar dengan antusias karena sifatnya yang mudah dikendarai oleh siapapun (tua-muda,pria-wanita). Dalam dunia desain, ini disebut kecenderungan POP CULTURE. Suatu gejala di masyarakat yang menggemari sesuatu yang muncul dan diterima khalayak ramai. Pop Culture sebagai sebuah ekspresi yang sifatnya sementara dan gampang berubah.

Salah satu ciri yang mencolok pada perkembangan sepeda sport ini adalah tampilan yang ‘penuh hiasan’, berwarna lebih menarik dari sekedar hitam atau hijau botol ciri umumnya sepeda toerfietsen. Sportfietsen juga menampilkan aneka ragam asesories atau hiasan sebagai pemanisnya. Agaknya kecenderungan ini kemudian diadopsi oleh penggemar sepeda kuno di Eropa dan Indonesia pada sepeda koleksinya yang bukan kategori Sportfietsen. Sehingga sekarang banyak ontelers yang mendandani sepeda kuno non sportfietsen koleksinya menggunakan berbagai asesories yang ramai dan menghebohkan selayaknya sportfietsen. Pada perkembangan berikutnya produsen sepeda tidak lagi memperhatikan pakem awal kriteria sportfietsen dengan toerfietsen, sehingga muncul sepeda toerfietsen yang beraneka warna dan penuh hiasan. Bermunculan pula sepeda sportfietsen yang menggunakan ukuran ban 28 dan berukuran tinggi. Di Indonesia orang biasa menyebut sportfietsen yang menggunakan ban 26 sebagai ‘jengki’ sedangkan yang ukuran ban 28 ada yang menyebut sebagai ‘sepeda kebo’ ada pula yang ‘sepeda pelayaran’ karena didatangkan orang melalui kapal dari Singapura. Serba-serbi model sepeda sport dapat dilihat pada http://www.rijwiel.net./sportfin.htm

 

 

Penampakan Simplex Sport yang simpel, ringkas, dan cantik.

Salah satu sportfietsen koleksi pak Azharul Yusri adalah Simplex. Secara bentuk dan model desain terlihat tidak berbeda dengan karakteristik sepeda sport umumnya, yakni bentuk frame yang tidak terlalu tinggi, slebor yang ornamentik dan ramping, bagasi/boncengan yang melengkung dengan dudukan yang menyatu pada supitan vertikal. Bentuk bagasi/boncengan model belakang melengkung koleksi Simplexer dari Pekanbaru ini sebagai penanda model sport. Mirip dengan boncengan sepeda sport produk Batavus, Fongers Grand Sport, Gazelle,..dll.Yang membedakan adalah setangnya, terlihat oleh pemilik sebelum pak Azharul diganti dengan setang Simplex Toerfietsen. Ini menjadi PR yang cukup sulit, sebab penampakan Simplex Sportfietsen ini sangat jarang. Saya baru menjumpai 2 kali. Satu punya seorang pensiunan guru di Salatiga dengan model rem kabel. Yang kedua punya pak Azharul ini. Kalau mau mudah ya diganti setang sepeda sport non Simplex, misalnya PFG yang dihapus tulisan PFG-nya dengan gerinda (tapi ini bukan saran).Namun kembali pada khitah penggemar sepeda kuno, lebih baik diterima dengan ikhlas sebagai anugerah yang indah. Biarkan setang seperti itu jika tidak menemukan setang sport. Mungkin yang bagus adalah benahi ketengkasnya serta lengkapi dengan cover ketengkas dari moleskin/celuloid, biar pamor sepeda sport terlihat.

 

Andyt Andrian

Foto koleksi Simplex Sport pak Azharul Yusri

Sumber data : Herbert Kuner (1999)

 

Model sock/keni yang ornamentik serta model tutup garpu yang mengingatkan pada Simplex Cycloide Kruisframe tahun 1957 koleksi Andre Koopmans yang disitus ‘Onthelist With Love’

Bentuk tautan pada supitan belakang yang dicor dan nomer serinya

Ketengkas yang perlu dilengkapi dengan bagian belakangnya serta cover dari moleskin/celuloid 

Perbedaan Cycloide dengan Neo (part 2)

Salah seorang rekan meragukan keaslian Simplex Cycloide seri 2 tunggangannya karena sepeda itu memakai torpedo FSB ‘cap burung’ dan jumlah jeruji roda depan 32 dan belakang 40. Rekan berbeda menanyakan apakah Simplex miliknya  dapat disebut Cycloide sedangkan besar braket hanya 38mm namun supitan vertical menyatu dicor dengan garpu belakang. Sementara ada juga yang merasa bahwa sepedanya Cycloide hanya karena setangnya tipe special handlebar (model tuas rem masuk di batang pipa setang).  

Kerancuan opini publik Indonesia tentang perbedaan Simplex model Cycloide dengan Neo juga seperti yang terjadi di negara-negara Eropa. Paling tidak hal inilah yang ditekankan dalam situs Simplex di www.rijwiel.net oleh Herbert Kuner sejak 1996 lalu. Simplex adalah sepeda yang banyak dipakai dan mendapat respon yang luar biasa sejak dipasarkan mula-mula. Banyak varian Simplex yang diproduksi berdasarkan tingkat kondisi masyarakat, mulai dari yang paling murah, sampai yang paling mahal, paling sukses sampai yang dianggap produk gagal sehingga menjadi andil makin bangkrutnya pabrik Simplex yang kemudian diakuisisi oleh Locomotief.

Jika merujuk pada kategori dasar karakteristik Simplex, hanya ada model Neo dengan harga yang dianggap murah dan model Cycloide yang lebih mahal (saat itu). Perbedaan ini hanya pada ukuran besar braket (lobang pada as tengah tempat unit kayuhan berada), lalu kondisi braket. Model Neo dengan ukuran diameter lobang dalam 38mm menggunakan sistem Thompson cup-and cone. Sementara model Cycloide mempunyai ukuran besar diameter dalam 40mm menggunakan sistem bearing, buatan Swedia, terdapat tutup pada bagian braket (lihat keterangan B pada gambar bawah). Sebenarnya hanya ini saja yang membedakan sepeda Simplex itu disebut Neo atau Cycloide.

 

Dudukan/cenilan pada frame penanda transmisi rem tromol (A). Tutup braket sebagai penanda model Cycloide yang harus ada pada setiap model Cycloide (B)

Hampir setiap sepeda produksi Belanda dipasarkan selalu menggunakan opsi pilihan yang menyesuaikan kondisi masyarakat terutama berkaitan dengan kebiasaan, kondisi jalan, dan kemampuan daya beli. Demikian pula Simplex. Sepeda ini dipasarkan menggunakan 3 pilihan opsi berbeda yang mengacu pada jenis remnya.

Perbedaan ini menimbulkan perbedaan harga yang cukup beragam dan mencolok. Paling murah adalah sepeda dengan model rem karet (bandremm), lalu harganya lebih mahal jika menggunakan model rem coaster-hub atau torpedo menurut istilah Indonesia. Di atas itu adalah sepeda dengan model rem tromol (trommelrem), dan yang paling mahal adalah sepeda dengan model rem tromol persneling Sturmey Archer (SA). Selisih harga antara model rem karet dengan model rem tromol persneling cukup jauh sehingga hampir dua kali lipatnya. Artinya membeli satu unit sepeda tromol persneling adalah hampir setara dengan dua unit sepeda sama model rem karet. Oleh karenanya di masyarakat Indonesia tempo dulu bunyi ‘cik-cik-cik’ tromol persneling menjadi indikator tingkat kesejahteraan penunggang sepeda tersebut.

 

Brosur Simplex Cycloide Elite tahun 1935, perhatikan perbedaan harga tromol dengan rem karet. Jaman segitu belum ada Simplex model tromol persneling.

 

 

Rem karet, torpedo, tromol atau tromol persneling memang menjadi asesories yang bisa dipindah-bongkar pasangkan ke setiap sepeda, oleh karenanya agar mempunyai kesan orisinil opsi model tersebut, maka produsen juga menambahkan unsur-unsur pendukung yang menempel khusus dan menyatu pada frame. Memang tidak tertutup kemungkinan pembeli sepeda model rem karet (yang paling murah) mengganti dengan rem tromol persneling  hanya  dengan menukar unit rodanya, namun dengan konstruksi dudukan yang berbeda di frame maka proses menjadi tidak semudah itu. Dudukan rem karet dengan rem tromol berbeda, apalagi frame sepeda model torpedo dengan frame sepeda opsi rem tromol/rem karet, pasti secara orisinil tidak terdapat dudukan/cenilan (bahasa Jawa) di frame sebagai tempat/jalur transmisi kawat remnya. Mulailah orang merekayasa, misalnya dengan menambah cenilan di frame sepeda model torpedo, atau membuang cenilan dudukan rem karet ketika mengganti rem menjadi torpedo. Termasuk juga mengganti setang menjadi setang tanpa tuas rem (setang torpedo). Torpedo juga mempunyai jenis berbeda dari sisi jumlah lobang (36 atau 40), atau dari sisi merek (FSB, Backson, Perry, Styria, Sach, Bosch, dll). Dari sisi jumlah gigi gearnya yang kesemuanya dapat diperoleh mudah di pasaran saat itu. Misalnya pengemudi sepeda yang tinggal di Bandung yang penuh tanjakan akan membeli torpedo dengan gigi gear yang lebih besar dibanding yang ada di Jogjakarta atau Surabaya yang kondisi topografinya datar. Di samping ada begitu banyak alasan pemilihan merek torpedo yang sebagian besar buatan Jerman itu. Memang kebanyakan sepeda Belanda menggunakan roda dengan jeruji 36, namun ini bukan harga mati, sebab bagi orang Belanda umumnya, torpedo adalah bagian dari asesories/unit yang bisa aus dan diganti-ganti sesuai kebutuhan, oleh karenanya mereka tidak fanatik pada produk yang dianggap ‘bawaan orisinal’nya. Kalau susah didapat, kalau harganya tidak cocok, atau kalau dianggap kurang awet, atau alasan-alasan lainnya, maka konsumen menjadi tidak peduli dengan anggapan opsi orisinilnya. Hal ini juga terjadi pada masyarakat sekarang yang menggonta-ganti onderdil/asesories sepeda motor/mobilnya dengan beragam alasan dan tidak lagi memperhatikan fanatisme pada faktor bawaan pabrik atau saran perusahaan.

 

Bagi orang Belanda kebanyakan sepeda adalah framenya. Kecuali jika ada hal-hal tertentu yang harus melekat karena kondisi frame, misalnya Simplex Pastur, harus Cycloide menggunakan torpedo, dan harus mempunyai setang kayuhan (rottel) berukuran di atas 160mm. Sebab kalau tidak, berarti itu sepeda Dames, atau bukan kendaraan bagi pastur. Baca protes Kuner di Simplex Priesterrijwiel ketika saya ganti setang dengan special handlebaar, dan torpedonya dengan tromol cycloide. Dia bilang sepeda saya bukan sepeda pastur lagi. Cuek aja…yang penting saya hepi. Oleh karena itu menjadi jelas bahwa antara model Neo dengan Cycloide tidak berhubungan dengan opsi model rem (karet, torpedo, tromol, dan tromol persneling). Atau jenis setangnya. Semoga bermanfaat.

Andyt Andrian,

Foto Simplex Cycloide Elite seri 2 (1940) koleksi Yudi Prasetyo

Source Authority and Broscure data : Herbert Kuner (2003)

 

 

Cenilan sebagai penanda jalur rem karet atau tromol yang menempel fix di frame,

namun oleh pemilik sebelum mas Yudi, sepeda ini diubah menjadi opsi model torpedo.

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.